AFTER

Published 14 Maret 2013 by DindaAdzaniah

AFTER

 

            Pertemuan pertama itu setelah beberapa tahun aku tak dapat melihat tatapanmu itu tapi hari ini dalam suasana yang ramai dengan perbincangan beberapa mahasiswa dengan ramainya kendaraan yang melintas. Waktu itu suasana siang menjelang sore sudah sangat terlukis dilangit diatas kota ini. Aku yang melangkah keluar kampusku denagn langkah yang terburu-buru ditemani beberapa temanku melintasi pakiran kampus dan gerbang kampus tiba-tiba mata ini menatap sebuah tatapan yang sepertinya tidak asing lagi tapi aku memutar otakku kapan terakhir aku menatap tatapan itu, ingin rasanya saat itu aku berhenti melangka, aku dapat menatap lebih dalam tatapan itu, menyapa bahkan berbincang dengan orang yang memiliki tatapan itu. Tapi apa dayaku semua rasa gugupku tak dapat menghentikan langkahku, rasa gugup itu bahkan memerintahkan otakku untuk mengalihkan pandanganku sampai benar-benar aku menyesal tidak dapat lebih dalam menatapnya bahkan saat tubuh ini berjalan tepat didepan matanya. Oh Tuhan apa yang aku lakukan seakan asing dan tidak mengenalnya.

            Saat aku sampai ditoko alat tulis disebelah kampusku rasanya ingin cepat berbalik dan melintas dijalan yang tadi aku lewati dengan harapan sapaan itu terungkap. Tapi memang apa yang kita ulangi dua kali tidak akan seindah awalnya. Selesai urusan ku ditoko itu aku sengaja melintas jalan yang sebelumnya ku lalui tepi orang yang memiliki tatapan itu sudah tidak berada diposisinya. Murka . . . . . murka . . . . aku murka dengan diriku sendiri.

            Selepas tatapan itu dengan sedikit rasa kekecewaan dihatiku aku meninggalkan kampus. Seperjalanan aku menuju rumah hp ku berdering terlintas satu nama didalam inbox message ku. Ya Tuhan apa yang teleh kau rencanakan untuk kami. Orang yang memiliki tatapan itu, orang yang selalu aku rindukan saat ini namanya ada dihpku. Sedikit munafik kata-kata yang kita ucapkan dipesan singkat itu padahal jelas terlihat tatapan yang baru saja kita lakukan dapat dengan mudah untuk mengingatkan siapa aku dan siapa dirmu. Tapi sifat munafik itu menutupi semua rasa rindu yang harusnya terucap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: