Filsafat Pancasila

Published 5 Juni 2013 by DindaAdzaniah

FILSAFAT PANCASILA

A.    Pengertian Filsafat

Filsafat adalah satu bidang ilmu yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan manusia. Dengan lain perkataan selama manusia hidup, maka sebenarnya ia tidak dapat filsafat, atau dalam kehidupan manusia senantiasa berfilsafat.

Sebelum dipahami lebih lanjut tentang pengertian filsafat maka dipandang penting untuk terlebih dahulu memahami istilah dan pengertian ‘filsafat’. Secara etimologis istilah ‘filsafat’ berasal dari bahasa Yunani ‘philen’ yang artinya ‘cinta’ dan ‘sophos’ yang artinya ‘hilmah’ atau ‘kebijaksanaan’ atau ‘wisdom’ (Nasution, 1973). Jadi secara harfiah istilah filsafat adalah mengandung makna cinta kebijaksanaan.

Jikalau ditinjau dari lingkup pembahasa, maka filsafat meliputi banyak bidang bahasa antara lain tentang manusia, masyarakat, alam, pengetahuan, etika, logika, agama, estetika, dan bidang lainnya.

Keseluruhan arti filsafat yang meliputi berbagai masalah tersebut dapat dikelompokan menjadi dua macam sebagai berikut:

1.      Filsafat sebagai produk

2.      Filsafat sebagai suat proses

 

B.     Pengertian Pancasila Sebagai Suatu Sistem

Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan system filsafat yang dimaksud  dengan system adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling berkerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh,system lazimnya memiliki ciri sebagai berikut:

1.      Suatu kesatuan bagian-bagian

2.      Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri

3.      Saling berhubungan,saling ketergantungan

4.      Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan system)

5.      Terjadi dalam satu lingkungan yang konpleks (shore dan voich,1974:22)

Dasar filsafat Negara Indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing merupakan suatu asa peradabab. Namun demikian sila-sila pancasila itu bersama-sama merupakan suatu kesatuan dan keutuhan, setiap sila merupakan suatu unsur (bagian yang mutlak) dari kesatuan pancasila. Maka dasar filsafat Negara pancasila adalah merupakan suatu kesatuan yang bersifat majemuk tunggal (majemuk  artinya jamak) (tunggal artinya satu). Konsekuensinya setiap sila tidak bias berdiri sendiri terpisah dari sila yang lainnya.

Pancasila merupakan suatu system filsafat lainnya antara lain materliasisme, idealism, rasionalisme, liberalism, sosialisme dan  sebagainya.

Kenyataan pancasila yang demikian itu disebut kenyataan objektif, yaitu behwa kenyataan itu ada pada pancasila sendiri terlepas dari sesuatu yang lain, atau terlepas dari pengetahuan orang. Kenyataan objektif yang ada dan terletak pada pancasila, sehingga pancasila sebagai suatu system filsafat bersifat khas dan berbeda dengan system-sistem filsafat yang lainnya misalnya riberalisme, materialism, komunisme dan aliran filsafat yang lainnya. Hal ini secara ilmiah disebut cirri khas secara objektif (Notonegoro, 1975:14). Oleh karena itu panasila sebagai suatu system filsafat akan memberikan ciri-ciri yang khas, yang khusus yang tidak terdapat pada system filsafat lainnya.

C.     Kesatuan Sila-sila Pancasila

1.      Susunan pancasila yang bersifat hirarkhis dan bentuk pyramidal

Susunan pancasila adalah hierarkhis dan mempunyai bentuk pyramidal. Dalam susunan hierarkhis dan pyramidal ini, maka Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan social. Sebaliknya Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ketuhanan yang berkemanusiaan, yang membangun, memelihara dan mengembangkan persatuan Indonesia, yang berkerakyatan dan berkeadilan social demikian selanjutnya. Sehingga tiap-tiap sila didalamnya mengandung sila-sila lainnya.

Secara antologis kesatuan sila-sila pencasila sebagai suatu system bersifat hierarkhis dan bentuk pyramidal adalah sebagai berikut : bahwa hakikat adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai causa prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakanTuhan atau manusia  ada sebagai kaibat adanya Tuhan (sila 1). Adapun manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok Negara, karena Negara adalah lembaga kemanusiaan Negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (sila2). Maka Negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu (sila3). Sehingga terbentuklah persekutuan hidup brsama yang disebut rakyat. Rakyat adalah sebagai totalitas individu-individu dalam Negara yang bersatu (sila 4). Keadilan pada hakikatnya merupakan tujuan suatu keadilan dalam hidup bersama atau dengan lain perkataan keadilan social (sila 5).

2.      Kesatuan sila-sila pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasikan

Sila-sila pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula dalam hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasikan dalam rangka hubunagn hierarkhis pyramidal tadi. Tiap-tiap sila seperti telah disebutkan diatas mengandung empat sia lainnya, dikulaifikasikan oleh empat sila lainnya.

D.    Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat

            Kesatuan sila-sila pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan yang besifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar antologis, dasar epistemologis serta dasar aksiologis dari sila-sila pancasila.

            Secara filosofis pancasila sebagai satu kesatuan system filsafat memiliki dasar antologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis sendiri yang berbeda dengan system filsafat yang lainnya misalnya materialism, liberalism, pragmatism, komunisme, idealisme dan lain paham filsafat di dunia.

1.      Dasar Ontologis Sila-sila Pancasila

      Pancasila sebagai suatu kesatuan system filsafat tidak hanya kesatuan yang menyangkut sila-silanya saja melainkan juga meiputi hakikat dasar dari sila-sila pancasila atau secara filosofis merupakan dasar ontologism sila-sila pancasila.

      Dasar ontologism pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memiliki hakikat mutlak monopluralis, oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai dasar antropologis.

      Manusia sebagai pendukung pokok sila-sila pancasila secara ontologis memiliki hal-hal mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa jasmani dan  rokhani, sifat kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk social. Serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sebdiri dan sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa.

2.      Dasar Epitemologis Sila-sila Pancasila

      Dasar epitemologis pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan ontologisnya. Oleh karena itu dasar epitemologis pancasila tidak dapat dipisahkan dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Kalau manusia merupakan basis ontologism dari pancasila, maka dengan demikian mempunyai implikasi terhadap bangunan epistemologis, yaitu bangunan epistemologis yang ditepatkan dalam bangunan filsafat manusia (Pranarka, 1996:32).

      Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologis yaitu : pertama tentang sumber pengetahuan manusia, kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, ketiga tentang watak pengetahuan manusia (Titus, 1984:20).

3.      Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila

      Sila-sila pancasila sebagai suatu system filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologisnya, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan.

a.       Teori Nilai

Menur tinggi rendahnya, nilai-nilai da[at dikelompokan dalam empat tingkatna sebagai berikut :

1)      Nilai-nilai kenikmatan

2)      Nilai-nilai kehidupan

3)      Nilai-nilai kejiwaan

4)      Nilai-nilai kerohanian

Masih banyak lagi cara pengelompokan niali, misalnya seperti yang dilakukan N. Recher, yaitu pembagian ini berdasarkan pembawa nilai, hakikat keuntungan yang diperoleh, dan pula dengan pengelompokan niali menjadi nilai interistik dan ekstrinsik, niali objektif dan nilai subyektif nilai positif dan nilai negative (disvalue), dan sebagainya.

b.      Nilai-nilai Pancasila sebagai Suatu Sistem

                               Sebagai suatu system pancasila memiliki tingkatan dan bobot nilai yang berbeda yang berarti ada ‘keharusan’ untuk menghormati nilai ynag lebih tinggi, niali yang berbeda tingkatan tetapi nilainya tidak saling berlawanan atau bertentangan melainkan saling melengkapi.

E.     Pancasila sebagai Nilai Dasar Fundamental bagi Bangsa dan Negara Republik Indonesia

1.      Dasar Filosofis

      Dasar pemikiran filosofis dari sila-sila pancasila sebagai dasar filsafat Negara adalah sebagai berikut. Pancasila sebagai system bangsa dan Negara Republik Indonesia, mengandung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan serta kenegaraan harus berdasarkan nila-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan Kerakyatan dan Keadilan.

      Artinya jikalau suatu Negara menggunakan prinsip filosofis bahwa Negara Berketuhanan, Berketuhanan, Berpersatuan, Berkerakyatan dan Berkeadilan, maka Negara tersebut pada hakikatnya menggunakan dasar filsafat dari nilai sila-sila pancasila.

2.      Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Filsafat Negara

      Nilai-nilai pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu sumber dari hokum dasar dalm Negara Indonesia. Hal ini sebagai mana ditetapkan dalam ketetapan No.XX/MPRS/1966.

      Nilai-nilai pancasila terkandung dalam pembukaan UUD 1945 secara yuridis memiliki kedudukan sebagai pokok kaidah Negara yang fundamental. Adapun pembukaan UUD 1945 ynag di dalamnya memuat nila-nilai pancasila mengandung empat pokok pikiran yang bilamana dianalisis makna yang terkandung di dalamnya tidak lain adalah merupakan derivasi atau penjabaran dari niali-nilai pancasila.

      Hal itu dapat disimpulkan bahwa keempat pokok pikiran tersebut tidak lain merupakan perwujudan dari silai-sila pancasila. Pokok pikiran ini sebagai dasar fundamental dalam pendirian Negara, yang realisasi berikutnya perlu diwujudkan atau dijelmakan lebih lanjut dalam pasal-pasal UUD 1945.

F.     Pancasila sebagai ideology Bangsa dan Negara Indonesia

            Istilah ideology berasal dari kata ‘idea’ yang berarti ‘gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita’ dan ‘logos’ yang berarti ‘ilmu’. Kata ‘idea’ berasal dari  bahasa yunani ‘eidos’ yang artinya ‘bentuk’. Disamping itu ada kata ‘idein’ yang artinya ‘melihat’. Maka secara harfiah, ideology berarti ilmu pengertian –pengertian dasar. Dalam penegrtian sehari-hari, ‘idea’ disamakan artinya dengan ‘cita-cita’. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita ynag bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandanga atau paham.

G.    Makna Nilai-nilai Setiap Sila Pancasila

            Sebagai suatu dasar filsafat Negara maka sila-sila pancasila merupakan suatu system nilai, oleh karen aitu sila-sila pancasila itu pada hakikatnya merupakan suatu  kesatuan. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila adalah sebagia berikut.

1.      Ketuhanan Yang Maha Esa

      Setiap Ketuhanan Yang Maha Esa ini nilai-nilainya meliputi dan menjiwai sila lainnya. Dalam sila ketuhanan yang Maha Esa terkandung nilai bahwa Negara yang didirikan adalah sebagai pengejawantahan tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan Ynag Maha Esa.

2.      Kemanusiaan Yang Adil dan beradab

      Sila kemanusian yang adil dan beradab secara sistematis didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, serta mendasari dan menjiwai ketiga sila berikutnya.

      Dalam sila kemanusiaan terkandung nilai-nilai bahwa Negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab.

Kemanusiaan yang adil dan beradab adalh mengandung nilai suatu kesadraan sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada pontensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri, gterhadap sesame manusia maupun terhadap lingkungannya.

3.      Persatuan Indonesia

      Nilai persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Hal ini terkandung nilai bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme religious. Yaitu nasionalisme yang bermoral Ketuhanan Yang Maha Esa, nasionalisme yang humanistic yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan.

4.      Kerakyatan yang Dipimpin Oleh hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

      Nilai filosofi yang terkandung dalma sila ini adalah bahwa hakikat Negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk social.

5.      Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

      Nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam sila ini adalah (1) kadilan distributive, yaitu suatu hubungan keadilan antara Negara dan  warganya dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi, dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban, (2) keadilan legal (keadilan bertaat), yaitu suatu hubungan keadilan antara warga Negara terhadap Negara dan dalam masalah ini pihak wargalah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam Negara.

 (3) kedilan komutatif, yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan lainnya secara timbale balik.        

H.    Pancasila Sebagai Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

            Meskipun bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses penjajahan bangsa asing, namun tatkala akan mendirikan suatu Negara telah memiliki suatu landasan filosofis yang merupakan suatu esensi cultural religious dai bangsa Indonesia sendiri yaitu berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan.

            Hal ini lah dalam wancana ilmiah dewasa ini diistilakan bahwa pancasila sebagai paradigma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

            Dalam masalah yang popular ini istilah ‘paradigma’ berkembang menjadi suatu terminology yang mengandung konotasi pengertian sumber nilai, kerangka pikiran, orientasi dasar, sumber asas arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan serta proses dalam suatu bidang tertentu termasuk dalam bidang kehidupan kenegaraan dan kebangsaan.

            Oleh karena itu untuk mencapai tujuan dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan terutama dalam melaksanakan pembangunan dan pembaharuan maka harus mendasrakan pada sutau kerangka pikiran, sumber nilai serta arahan yang didasarkan pada nilai-nilai pancasila.

Referensi :

Pendidikan Kewarganegaraan untuk perguruan tinggi, berdasarkan SK DIRJEN DIKTI NO. 43/DIKTI/KEP/2006, Pengarang PROF. DR. H. KAELAN, M.S. dan DRS. H. ACHMAD ZUBAIDI, M.Si (Dosen Universitas Gaja Mada, Yogyakarta), Penerbit “PARADIGMA’ Yokyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: